HUBUNGAN
BELAJAR DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK
MAKALAH
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Landasan Pendidikan

Disusun
oleh :
Kelas
1 A
Evilia
Damayanti
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS
PRNDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS
PURWAKARTA
2011
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah Yang
Maha Pengasih, Tuhan penguasa alam, Dia-lah Yang Maha Penyayang dan Maha Adil
kepada setiap makhluk-Nya. Atas rahmat dan kehendakNya makalah berjudul,
“Pengaruh Belajar terhadap Perkembangan Kognitif Anak” ini dapat terselesaikan.
Shalawat
dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan alam, yakni Nabi Besar
Muhammad Saw., keluarga, sahabat serta ummat yang senantiasa mengikuti dan
mengamalkan ajarannya, dan semoga semua termasuk ke dalam ummat Nabi Besar
Muhammad yang akan mendapat safa’at dari beliau kelak di hari kiamat. Aamiin.
Dalam
memberikan pembelajaran di Sekolah Dasar dibutuhkan strategi pembelajaran yang
sesuai dan tepat dengan perkembangan siswa di Sekolah Dasar. Dengan
pembelajaran yang tepat dan sesuai
diharapkan menghasilkan proses pembelajaran yang berkualitas.
Strategi-strategi pembelajaran harus sesuai dengan bidang dan tujuan
pembelajaran.
Dalam
proses pembelajaran diperlukan adanya perhatian khusus mengenai perkembangan
siswa khususnya perkembangan fungsi kognitif dan pembawaan atau bakat. Karena
hal tersebut berkaitan erat dan saling berpengaruh dalam perkembangan kehidupan
manusia tak terkecuali para siswa sebagai peserta didik. Apabila fungsi
kognitif, bakat dan proses belajar seorang dalam keadaan positif, hampir dapat
dipastikan siswa tersebut akan mengalami proses perkembangan kehidupan secara mulus.
Akan tetapi, asumsi yang menjanjikan ini belum tentu terwujud, karena banyak
faktor yang berpengaruh terhadap proses belajar siswa dalam menuju cita-cita
bahagianya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita melakukan banyak kegiatan
pembelajaran, kegiatan tersebut merupakan gejala belajar, dalam arti mustahil
kita bisa melakukan sesuatu kegiatan, kalau kita tidak belajar terlebih dahulu
terhadap sesuatu yang akan kita lakukan. Misalnya kita mengenakan pakaian, kita
makan menggunakan alat-alat makan, kita berkomunikasi satu sama lain dalam
bahasa nasional, dan banyak lagi kegiatan-kegiatan yang oleh hampir setiap
orang dapat disetujui kalau itu adalah disebut perbuatan belajar.
Belajar
merupakan sebuah proses yang terjadi di dalam otak manusia. Saraf dan sel-sel
otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh
telinga dan lain-lain lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah
sebabnya orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.
Gejala belajar menunjukan proses perubahan dari belum mampu
kearah sudah mampu dan proses perubahan itu terjadi selama jangka waktu
tertentu. Adanya perubahan dalam pola perilaku inilah yang menandakan telah
terjadi proses belajar. Semakin banyak kemampuan yang dimiliki maka semakin
banyak pula perubahan yang dialami. Perubahan hasil belajar itu akan bertahan
lama, bahkan sampai taraf tertentu tidak menghilang lagi. Kemampuan yang telah
diperoleh, menjadi milik pribadi yang tidak akan terhapus begitu saja. Berbeda
dengan orang yang melupakan sesuatu, orang itu mendapat kesan, bahwa yang pernah
dipelajarinya telah menghilang, jadi seolah-olah hasil belajar tidak berkesan.
Namun kesan itu tidak seluruhnya benar, karena dalam ingatannya tetap tinggal
sisa-sisa dari apa yang dipelajarinya dahulu. Adanya sisa-sisa itu
memungkinkannya untuk mempelajari kembali hal itu lebih mudah dan lebih cepat,
dibandingkan dengan orang yang tidak pernah belajar hal itu. Misalnya seseorang
pernah mempelajari suatu bahasa daerah yang bukan bahasa ibunya sendiri,
kemudian selama kurun waktu yang lama, bahasa daerah itu tidak digunakannya
lagi, sehingga dia sendiri mendapat kesan telah melupakan bahasa itu. Namun
bila orang itu mulai mempelajari kembali bahasa daerah itu, dia akan merasa
heran sendiri, karena kali ini dia belajar dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan
dengan waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mempelajari bahasa itu untuk
pertama kali. Dengan demikian, hasil belajar itu tidak menghilang begitu saja,
kecuali bila terjadi proses belajar yang baru atau terjadi kerusakan / kelainan
dalam otak yang mengganggu fungsi ingatan.
Makalah ini disusun
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran yang
dibimbing oleh Drs. Mamad Kasmad, S.Pd, M.Pd. Penyusunan makalah ini tidak
lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Pepatah
mengatakan, “Tiada Gading yang Tak Retak”. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang membangun sangat dinantikan, dan mudah-mudahan makalh ini dapat memberi
setitik manfaat bagi ilmu pengetahuan.
Purwakarta,
Oktober 2011
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah.
Salah
satu fungsi pendidikan adalah pemindahan nilai-nilai, ilmu dan keterampilan
dari generasi tua kepada generasi muda untuk melanjutkan dan memelihara
identitas masyarakat. Dalam pemindahan (transmision) nilai-nilai ilmu, dan
keterampilan inilah psikologi memegang peranan yang sangat penting.
Persoalannya adalah melalui pengajaran ataukah melalui proses belajar
(learning)? Dahulu orang menyangka bahwa mengajar sebenarnya tidak lebih dari
memindahkan isi kepala seorang guru atau beberapa orang murid. Dengan demikian
terjadilah proses belajar. Dengan kata lain, belajar sebenarnya tidak ubahnya
seperti memindahkan isi suatu keranjang atau
keranjang-keranjang lain. (Langgulung,
H, 2008: 245).
(Rasyidin,
W, 2009: 29) mengemukakan bahwa Pendidikan diupayakan dengan berawal dari
manusia apa adanya (aktualitas) dengan mempertimbangkan
berbagai kemungkinan yang ada padanya (potensialitas), dan diarahkan menuju
terwujudnya manusia yang seharusnya/dicita-citakan (idealitas). Sosok manusia
yang dicita-citakan atau yang menjadi tujuan pendidikan itu tiada lain adalah
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya, mampu
memenuhi kebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan hawa nafsunya,
berkepribadian, bermasyarakat dan berbudaya. Implikasinya, pendidikan harus
berfungsi untuk mewujudkan (mengembangkan) berbagai potensi yang ada pada
manusia dalam konteks dimensi keberagamaan, moralitas,
individualitas/personalitas, sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Manusia
ketika dilahirkan dalam keadaan lemah
tak berdaya. Kelemahan yang dimiliki anak adalah kelemahan rohani dan jasmani.
Kelemahan dan ketidakberdayaan makin lama makin hilang karena berkat
pendidikan. (Sadulloh, U, 2009: 4).
Perkembangan
adalah proses atau tahapan perubahan ke arah
yang lebih maju. Belajar adalah tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif
positif dan menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan
proses kognitif. Mengajar merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa. perkembangan sebuah proses yang berbeda dengan
pertumbuhan. menurut pakar perkembangan adalah suatu proses perubahan yang
kualitatif yang mengacu pada fungsi pada organ-organ jasmaniah. dan
perkembangan itu akan berlanjut sampai manusia itu mati. Sedangkan pertumbuhan
ialah hanya terjadi sampai manusia itu mencapai kematangan fisik, artinya
manusia tidak akan mengalami pertumbuhan jika tubuh manusia itu mengalami
Kematangan. Pendidikan adalah usaha dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak melalui
latihan dan belajar. (Syarifudin, T, 2006: 80).
B. Rumusan Masalah.
Rumusan masalah yang diangkat dalam kajian ini
adalah sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud perkembangan?
2.
Apa yang dimaksud belajar?
3.
Apa pengaruh belajar terhadap
perkembangan kognitif anak?
C. Tujuan Penulisan Makalah.
Tujuan yang hendak
dicapai dalam kajian ini adalah ingin mengetahui tentang:
1.
Pengertian perkembangan.
2.
Pengertian belajar.
3.
Pengaruh belajar terhadap perkembangan
kognitif anak.
D. Prosedur Pemecahan Masalah.
Makalah
ini dibuat dengan menggunakan metode
analisis deskriftif, yakni metode yang mengembangkan suatu permasalahan atau tema
penulisan yang bersumber dari buku, internet atau sumber lain yang ada.
E. Sistematika Penulisan Makalah.
Makalah ini diawali dengan bab
pendahuluan, dan diakhiri dengan bab simpulan. Secara lengkapnya adalah sebagai
berikut:
Bab I
merupakan bab pendahuluan yang berisikan : a) latar belakang masalah, b)
rumusan masalah, c) tujuan penulisan makalah, d) prosedur penulisan makalah, e)
sistematika penulisan makalah.
Bab
II merupakan kajian teori dan pembahasan hasil kajian yang berkaitan dengan
Pengaruh Belajar terhadap Perkembangan Kognitif Anak : a) pengertian
pertumbuhan, b) pengertian perkembangan, c) faktor yang mempengaruhi
perkembangan, d) tahap perkembangan, e) proses perkembangan, f) tugas perkembangan,
g) belajar, h) arti penting belajar terhadap perkembangan kognitif anak, i) Belajar, Memori, Pengetahuan dalam Perspektif
Psikologi dan Agama.
Bab
III, berisikan kesimpulan.
BAB
II
PENGARUH
BELAJAR TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK
A.
Pengertian
Pertumbuhan.
Pertumbuhan adalah perubahan yang
bersifat material dan kuantitatif. Misalnya perubahan tingkah laku pembesaran
dan perpanjangan tulang dan otot sehingga tubuh menjadi lebih besar dan lebih
tinggi. (Syarifudin, T, 2006: 80).
Pertumbuhan adalah perubahan kuantitatif yang
mengacu pada jumlah, besar, dan luas yang bersifat konkret. Pertumbuhan berarti
kenaikan dan penambahan ukuran yang berangsur-angsur seperti badan menjadi
besar dan tegap, juga kaki dan tangan semakin panjang. (Syah, M, 1995: 42).
B.
Pengertian
Perkembangan.
Syarifudin,T (2006: 80) mengemukakan
bahwa Perkembangan adalah perubahan yang bersifat fungsional dan kualitatif. Misalnya
perubahan fungsi pikir dari kemampuan berpikir konkrit menjadi berpikir
abstrak, perubahan fungsi tangan dari kemampuan mencoret-coret menjadi mampu
menulis.
Syah,M (1995: 42) mengemukakan
bahwa perkembangan adalah rentetan perubahan jasmani dan rohani manusia menuju
ke arah yang lebih maju dan sempurna.
C. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan.
Syah,M (1995: 43) mengemukakan
bahwa dalam mempelajari perkembangan manusia diperlukan adanya perhatian khusus
mengenai hal-hal: 1) proses pematangan, khususnya pematangan fungsi kognitif;
2) proses belajar; 3) pembawaan atau bakat. Ketiga hal ini berkaitan erat dan
saling berpengaruh dalam perkembangan kehidupan manusia tak terkecuali para
siswa sebagai peserta didik. Apabila fungsi kognitif, bakat dan proses belajar
seorang siswa dalam keadaan positif, hampir dapat dipastikan siswa tersebut
akan mengalami proses perkembangan kehidupan secara mulus. Akan tetapi, asumsi
yang menjajikan seperti ini sebenarnya belum tentu terwujud, karena banyak
faktor yang berpengaruh terhadap proses perkembangan siswa dalam menuju
cita-cita bahagianya.
Syah,M (1995: 43) mengemukakan
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa terbagi menjadi tiga
aliran :
1. Aliran
Nativisme.
Nativisme (nativism) adalh sebuah
doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis.
Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof
Jerman. Aliran filsafat nativisme konon dijuluki sebagai aliran pesimistis yang
memandang segala sesuatu dengan kacamata hitam. Penganut aliran nativisme
berkeyakinan bahwa manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan
pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan
pandangan seperti ini disebut pesimisme pedagogis.
2. Aliran
Empirisme.
Kebalikan dari aliran nativisme adalah
aliran empirisme (empiricism) dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Nama
asli aliran ini adalah “The School of British Empiricism” (aliran empirisme
Inggris). Namun aliran ini lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika
Serikat, sehingga melahirkan sebuah filsafat bernama “environmentalisme”
(aliran lingkungan) dan psikologi bernama “environmental psychology” (psikologi
lingkungan) yang relatif masih baru. Doktrin empirisme yang sangat mashyur
adalah “tabula rasa”, sebuah istilah bahasa asing yang berarti batu tulis
kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa
menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan dalam arti
perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman
pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada
pengaruhnya.
3. Aliran
Konvergensi.
Aliran konvergensi (convergence)
merupakan gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme. Aliran ini
menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai
faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perkembangan manusia. Tokeh utama
konvergensi bernama Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof dan
psikolog Jerman. Para penganut aliran konvergensi berkeyakinan bahwa baik
faktor pembawaan maupun faktor lingkungan andilnya sama besar dalam menentukan
masa depan seseorang.
Berdasarkan
uraian mengenai aliran-aliran doktrin filosofis yang berhubungan dengan proses
perkembangan di atas, faktor yang mempengaruhi perkembangan pada dasarnya terdiri dari faktorn internal
dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri siswa
itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut
mengembangkan dirinya sendiri, sedangkan faktor eksternal yaitu hal-hal yang
datang atau ada di luar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya
pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungannya.
D.
Tahap
Perkembangan.
Jean Piaget mendeskripsikan
perkembangan mental anak ditinjau dari sudut tindakan (in terms of operations),
dari pengaturan objek-objek dan kejadian-kejadian (the ordering of objects and events). Saat
individu belajar untuk memahami objek dan kejadian di dalam suatu lingkungan,
pertama ia bertindak berdasarkan pengamatan konkrit, kemudian mampu
mempresentasikannya melalui simbol-simbol. Menurut Piaget (Syarifudin, T. 2006:
83) membagi perkembangan mental ini ke dalam 4 periode:
1.
Tingkat
Sensiomotorik (0-2 tahun).
Tingkat sensiomotorik (fungsi pancaindra) ini dalam
kehidupan anak bertindak lanjut hingga usia 2 tahun anak mempelajari lingkungan
sekitar yang paling dekat melalui aktifitas sensiomotorik. Aktifitas terjadi
tanpa lewat wujud simbolik tetapi lewat wujud nyata yang ada di lingkungan
sekitar. Anak pada masa ini tidak dapat memadukan pengalamannya sebagai satu kesatuan
yang utuh, tetapi apa yang dialami merupakan pengalaman-pengalaman yang
terpisah. Meski banyak yang bisa diungkapkan dari suatu pengalaman yang
diperolehnya, namun dengan kemampuan awal berbicara anak tidak dapat
mengungkapkan dan memahami makna pengalamannya secara utuh dan lengkap.
2. Tingkat
Praoperasional (2-6 tahun).
Antara 2-6 tahun
anak berupaya mengorganisasikan dunia dirinya dengan lingkungannya. Pada usia 2
atau 2,5 tahun hingga usia 4 atau 5 tahun merupakan periode perkembangan yang
cepat dan ekstensif. Umumnya anak usia 3-4 tahun sudah dapat membentuk kelompok
bermain (play group) dengan teman-temannya. Antara usia 4-5 tahun anak sudah lebih
diarahkan untuk ,emasuki pendidikan TK.
3.
Tingkat Operasional Konkrit (7-11 tahun)
Pada fase ini anak berada pada usia SD. Antara 7-8
tahun, sistem kognitif yang terpadu dalam mengorganisasikan dunia sekitar anak
mulai berkembang. Proses berpikir tidak lagi bersifat statis atau sesaat.
Bahasa sudah digunakan secara sadar sebagai alat pengembang pikiran. Walau
demikian pada tingkat ini anak lebih memfungsikan objek-objek yang dilihatnya,
dan anak dapat memanipulasikannya. Pada usia-usia selanjutnya terutama pada
kelas tinggi SD, anak mulai mengenal dunia melalui pola pikir yang lebih
sistematis, mulai menggunakan proses berpikir logis. Pada kelas 1 SD suasana TK
tidak dapat dibedakan dan pengaruh suasana TK pada anak masih tetap ada.
Demikian pula pada kelas 1 SLTP suasana dan pengaruh SD pada anak masih ada.
Hal ini terjadi karena proses perkembangan berlangsung berkelanjutan.
4.
Tingkat Operasional Formal (12-ke atas)
Pada fase ini antara usia 12-15 tahun, anak mengenal
dunia melalui logika dan praduga pikirannya secara sistematis. Anak mampu
merumuskan hipotesis tentang duni sekitar, menggunakan proses berpikir logis,
dan mampu menggunakan alam pikirannya dibalik sesuatu yang tampak ada.
Permasalahan dapat diatasi dengan berbagai cara dan sudut pandang yang berbeda.
Bahasa digunakan secara cermat, baik sebagai fasilitator maupun sebagai
pengembangan berpikir. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, anak
membutuhkan bantuan orang dewasa. Dengan memahami prinsip-prinsip perkembangan
dan karakterisktik (ciri, sifat) anak sesuai tingkatan usianya, akan
memungkinkan guru lebih mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang
kondusif bagi kebutuhan anak.
E.
Proses
Perkembangan.
Proses dapat diartikan sebagai
runtutan perubahan yang terjadi dalam perkembangan sesuatu. Adapun maksud kata
proses dalam perkembangan siswa ialah tahapan-tahapan perubahan yang dialami
seorang siswa, baik yang bersifat jasmaniah maupun yang bersifat rohaniah. (Syah,
M, 1995: 48).
Syah,M (1995: 48) membagi proses
perkembangan individu sampai menjadi dirinya sendiri berlangsung dalam tiga
tahapan:
1.
Proses
konsepsi.
2.
Proses
kelahiran.
3.
Proses
perkembangan individu bayi menjadi seorang pribadi khas.
Seorang individu dalam hidupnya
selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang
akan memperoleh skema. Skema
berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami
dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang
terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan
Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan
pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan,
informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau
mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin
memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila
pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak
kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan
mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan
perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk
memasukkan jenis burung yang baru ini. Asimilasi
adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses
ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman
atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada
sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label
"burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung
si anak. Akomodasi adalah bentuk
penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat
adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam
proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam
contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung
sebelum memberinya label burung adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada
skema burung si anak. Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi
seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke
tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena
ia ingin mencapai keadaan equilibrium,
yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya
di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut
selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas. Dengan
demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari
luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi
pengetahuannya. (http://id.wikipedia.org, Maret,
2011).
F. Tugas Perkembangan.
Tugas perkembangan adalah sejumlah
tugas yang muncul pada suatu fase perkembangan tertentu dalam kehidupan
individu. Keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan akan
membawa kebahagiaan, dan kemungkinan akan membawa keberhasilan dalam
melaksanakan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Kegagalan akan membawa
kekecewaan bagi individu, dan kemungkinan akan mengalami kesulitan dalam
menghadapi tugas-tugas selanjutnya. (Syarifudin, T, 2006: 85).
Syah, M (1995: 42) mengemukakan
bahwa hal yang pasti bahwa setiap fase atau tahapan perkembangan kehidupan
manusia senantiasa berlangsung seiring dengan kegiatan belajar. Kegiatan
belajar dalam hal ini tidak berarti merupakan kegiatan belajar yang ilmiah.
Tugas brelajar yang muncul dalam setiap fase perkembangan merupakan keharusan
universal yang idealnya berlaku secara otomatis, seperti kegiatan belajar
keterampilan melakukan sesuatu pada fase perkembangan tertentu yang lazim
terjadi pada manusia normal. Disamping itu, hal-hal lain yang juga menimbulkan
tugas-tugas perkembangan tersebut karena adanya kematangan fisik tertentu pada
fase perkembangan tertentu, adanya dorongan cita-cita psikologis manusia yang
sedang berkembang itu sendiri, dan adanya tuntutan kultural masyarakat sekitar.
Dalam rangka memfungsikan tahap-tahap perubahan yang menyertai perkembangannya,
manusia harus belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu pada saat atau
masa perkembangan yang tepat dipandang berkaitan langsung dengan tugas-tugas
perkembangan berikutnya.
G.
Belajar.
Secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh
tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan
interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sehubungan dengan
pengertian itu perlu diutarakan bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat
proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang
sebagai proses belajar. (Syah, M, 1995: 92).
Dalam keseluruhan proses belajar di sekolah, kegiatan
belajar merupakan kegiatan paling pokok ini berarti berhasil tidaknya tujuan
pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung bagaimana proses belajar yang
dialami oleh murid sebagai anak didik. (Surya, 1992: 21).
H.
Pengaruh
Belajar terhadap Perkembangan
Kognitif Anak.
Syah,M (1995: 94) mengemukakan bahwa belajar adalah key term (istilah
kunci yang paling vital dalam setiap usaha prndidikan, sehingga tanpa belajar
sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses belajar hampir
selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan
dengan berbagai upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan. Karena
demikian pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar upaya riset dan
eksperimen psikologi pendidikan pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang
lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu. Perubahan dan
kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam
belajar. Karena kemampuan berubahlah, manusia terbebas dari kemandegan
fungsinya sebagai khalifah di bumi. Selain itu, dengan kemampuan berubah
melalui belajar itu, manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan
menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Tidak ada proses
perkembangan siswa baik jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari
proses belajar mengajar sebagai proses pendidikan. Apabila fisik dan mental
sudah matang, pancaindra sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan,
berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba. Kualitas hasil proses perkembangan
manusia itu banyak terulang pada apa dan bagaimana ia belajar. selanjutnya
tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia itu akan menentukan masa depan
peradaban manusia itu sendiri. E.L. Thordike seorang pakar teori Srbond
meramalkan, jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengah saja maka
peradaban sekarang ini tak akan berguna bagi kehidupan mendatang. bahkan,
mungkuin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan sang zaman.
I.
Belajar,
Memori, Pengetahuan dalam Perspektif Psikologi dan Agama.
Pada umumnya para ahli psikologi pendidikan khususnya mereka yang
tergolong cognitivist (ahli sains kognitif sepakat bahwa hubungan antara
belajar, memori, dan pengetahuan itu sangat erat dan tak mungkin dipisahkan.
Memori yang biasanya kita artikan sebagai ingatan itu sesungguhnya adalah
fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storege
system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di
dalam otak manusia. Ditinjau dari sudut jenis informasi dan pengetahuan yang
disimpan, memori manusia itu terdiri atas dua macam: 1)Semantic memory (memori
semantik), yaitu memori khusus yang menyimpan arti-arti atau
pengertian-pengertian; 2)Episodic memory (memori episodik), yaitu memori khusus
yang menyimpan informasi tentang peristiwa-peristiwa.
Syah,M
(1995: 101) mengemukakan bahwa Islam, dalam hal penekanannya terhadap
signifikasi fungsi kognitif (akal) dan fungsi sensori (indra-indra) sebagai
alat-alat yang penting untuk belajar, sangat jelas. Kata-kata kunci, seperti
ya’qilun, yatafakkarun, yubshirun, yasma’un, dan sebagainya yang terdapat dalam
Al-Qur’an, merupakan bukti betapa pentingnya penggunaan fungsi ranah cipta dan
karsa manusia dalam belajar dan meraih ilmu pengetahuan.
BAB
III
KESIMPULAN
1. Syarifudin,T
(2006: 80) mengemukakan bahwa Perkembangan adalah perubahan yang bersifat
fungsional dan kualitatif. Misalnya perubahan fungsi pikir dari kemampuan
berpikir konkrit menjadi berpikir abstrak, perubahan fungsi tangan dari kemampuan
mencoret-coret menjadi mampu menulis.
2. Secara
umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku
individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sehubungan dengan pengertian itu
perlu diutarakan bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses
kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai
proses belajar. (Syah, M, 1995: 92).
3. Belajar
akan mempengaruhi perkembangan kognitif siswa. Perubahan dan kemampuan untuk
berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena
kemampuan berubahlah, manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai
khalifah di bumi. Selain itu, dengan kemampuan berubah melalui belajar itu,
manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan
keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Tidak ada proses perkembangan
siswa baik jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari proses
belajar mengajar sebagai proses pendidikan. Apabila fisik dan mental sudah
matang, pancaindra sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan,
berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba.
DAFTAR
PUSTAKA
Syah,
Muhibbin. 1993. Arti Penting Aspek
Kognitif dalam Pengajaran Agama. Bandung: Mimbar Studi, IAIN SGD. No.
53/XV/1993.
Syah,
Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan
dengan Pendekatan Baru. Bandung: P T. Remaja Rosdakarya.
Syarifudin,
Tatang, dkk.., 2006. Landasan Pendidikan.
UPI PRESS: Bandung.
Rasyidin,
Waini, dkk., 2009. Filsafat Pendidikan. UPI
PRESS: Bandung.
Syaripudin, T. 2007. Landasan Pendidikan.UPI PRESS: Bandung.
Langgulung,
Hasan. 2003. Asas-Asas Pendidikan Islam.
Jakarta: PT. Pustaka Al Husna Baru.
Arbi, S.Z,
dkk., 1993. Dasar-Dasar Kependidikan.
Jakarta: Dirjen Dikti-Depdikbud.
terimakasih atas ilmunya
BalasHapussama-sama..
BalasHapus