Minggu, 14 April 2013

MAKALAH: HUBUNGAN BELAJAR DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK


HUBUNGAN BELAJAR DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Landasan Pendidikan


Description: logo 1.jpg


Disusun oleh :
Kelas 1 A
Evilia Damayanti






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS PRNDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS PURWAKARTA
2011

KATA PENGANTAR

             Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih, Tuhan penguasa alam, Dia-lah Yang Maha Penyayang dan Maha Adil kepada setiap makhluk-Nya. Atas rahmat dan kehendakNya makalah berjudul, “Pengaruh Belajar terhadap Perkembangan Kognitif Anak” ini dapat terselesaikan.
            Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan alam, yakni Nabi Besar Muhammad Saw., keluarga, sahabat serta ummat yang senantiasa mengikuti dan mengamalkan ajarannya, dan semoga semua termasuk ke dalam ummat Nabi Besar Muhammad yang akan mendapat safa’at dari beliau kelak di hari kiamat. Aamiin.
            Dalam memberikan pembelajaran di Sekolah Dasar dibutuhkan strategi pembelajaran yang sesuai dan tepat dengan perkembangan siswa di Sekolah Dasar. Dengan pembelajaran yang tepat dan sesuai  diharapkan menghasilkan proses pembelajaran yang berkualitas. Strategi-strategi pembelajaran harus sesuai dengan bidang dan tujuan pembelajaran.
            Dalam proses pembelajaran diperlukan adanya perhatian khusus mengenai perkembangan siswa khususnya perkembangan fungsi kognitif dan pembawaan atau bakat. Karena hal tersebut berkaitan erat dan saling berpengaruh dalam perkembangan kehidupan manusia tak terkecuali para siswa sebagai peserta didik. Apabila fungsi kognitif, bakat dan proses belajar seorang dalam keadaan positif, hampir dapat dipastikan siswa tersebut akan mengalami proses perkembangan kehidupan secara mulus. Akan tetapi, asumsi yang menjanjikan ini belum tentu terwujud, karena banyak faktor yang berpengaruh terhadap proses belajar siswa dalam menuju cita-cita bahagianya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita melakukan banyak kegiatan pembelajaran, kegiatan tersebut merupakan gejala belajar, dalam arti mustahil kita bisa melakukan sesuatu kegiatan, kalau kita tidak belajar terlebih dahulu terhadap sesuatu yang akan kita lakukan. Misalnya kita mengenakan pakaian, kita makan menggunakan alat-alat makan, kita berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa nasional, dan banyak lagi kegiatan-kegiatan yang oleh hampir setiap orang dapat disetujui kalau itu adalah disebut perbuatan belajar.
            Belajar merupakan sebuah proses yang terjadi di dalam otak manusia. Saraf dan sel-sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan lain-lain lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah sebabnya orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.
            Gejala belajar menunjukan proses perubahan dari belum mampu kearah sudah mampu dan proses perubahan itu terjadi selama jangka waktu tertentu. Adanya perubahan dalam pola perilaku inilah yang menandakan telah terjadi proses belajar. Semakin banyak kemampuan yang dimiliki maka semakin banyak pula perubahan yang dialami. Perubahan hasil belajar itu akan bertahan lama, bahkan sampai taraf tertentu tidak menghilang lagi. Kemampuan yang telah diperoleh, menjadi milik pribadi yang tidak akan terhapus begitu saja. Berbeda dengan orang yang melupakan sesuatu, orang itu mendapat kesan, bahwa yang pernah dipelajarinya telah menghilang, jadi seolah-olah hasil belajar tidak berkesan. Namun kesan itu tidak seluruhnya benar, karena dalam ingatannya tetap tinggal sisa-sisa dari apa yang dipelajarinya dahulu. Adanya sisa-sisa itu memungkinkannya untuk mempelajari kembali hal itu lebih mudah dan lebih cepat, dibandingkan dengan orang yang tidak pernah belajar hal itu. Misalnya seseorang pernah mempelajari suatu bahasa daerah yang bukan bahasa ibunya sendiri, kemudian selama kurun waktu yang lama, bahasa daerah itu tidak digunakannya lagi, sehingga dia sendiri mendapat kesan telah melupakan bahasa itu. Namun bila orang itu mulai mempelajari kembali bahasa daerah itu, dia akan merasa heran sendiri, karena kali ini dia belajar dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan dengan waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mempelajari bahasa itu untuk pertama kali. Dengan demikian, hasil belajar itu tidak menghilang begitu saja, kecuali bila terjadi proses belajar yang baru atau terjadi kerusakan / kelainan dalam otak yang mengganggu fungsi ingatan.
            Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran yang dibimbing oleh Drs. Mamad Kasmad, S.Pd, M.Pd. Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Pepatah mengatakan, “Tiada Gading yang Tak Retak”. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan, dan mudah-mudahan makalh ini dapat memberi setitik manfaat bagi ilmu pengetahuan.

Purwakarta, Oktober 2011

                                                                                                                                     Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah.
            Salah satu fungsi pendidikan adalah pemindahan nilai-nilai, ilmu dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda untuk melanjutkan dan memelihara identitas masyarakat. Dalam pemindahan (transmision) nilai-nilai ilmu, dan keterampilan inilah psikologi memegang peranan yang sangat penting. Persoalannya adalah melalui pengajaran ataukah melalui proses belajar (learning)? Dahulu orang menyangka bahwa mengajar sebenarnya tidak lebih dari memindahkan isi kepala seorang guru atau beberapa orang murid. Dengan demikian terjadilah proses belajar. Dengan kata lain, belajar sebenarnya tidak ubahnya seperti memindahkan  isi suatu keranjang atau  keranjang-keranjang lain. (Langgulung, H, 2008: 245).
            (Rasyidin, W, 2009: 29) mengemukakan bahwa Pendidikan diupayakan dengan berawal dari manusia apa adanya (aktualitas) dengan  mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada padanya (potensialitas), dan diarahkan menuju terwujudnya manusia yang seharusnya/dicita-citakan (idealitas). Sosok manusia yang dicita-citakan atau yang menjadi tujuan pendidikan itu tiada lain adalah manusia yang beriman  dan  bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya, mampu memenuhi kebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan hawa nafsunya, berkepribadian, bermasyarakat dan berbudaya. Implikasinya, pendidikan harus berfungsi untuk mewujudkan (mengembangkan) berbagai potensi yang ada pada manusia dalam konteks dimensi keberagamaan, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas, dan keberbudayaan  secara menyeluruh dan terintegrasi.
            Manusia ketika dilahirkan dalam keadaan  lemah tak berdaya. Kelemahan yang dimiliki anak adalah kelemahan rohani dan jasmani. Kelemahan dan ketidakberdayaan makin lama makin hilang karena berkat pendidikan. (Sadulloh, U, 2009: 4).
            Perkembangan adalah  proses atau tahapan perubahan ke arah yang lebih maju. Belajar adalah tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Mengajar merupakan penyampaian  pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa. perkembangan  sebuah proses yang berbeda dengan pertumbuhan. menurut pakar perkembangan adalah suatu proses perubahan yang kualitatif yang mengacu pada fungsi pada organ-organ jasmaniah. dan perkembangan itu akan berlanjut sampai manusia itu mati. Sedangkan pertumbuhan ialah hanya terjadi sampai manusia itu mencapai kematangan fisik, artinya manusia tidak akan mengalami pertumbuhan jika tubuh manusia itu mengalami Kematangan. Pendidikan adalah usaha dalam  membantu  pertumbuhan dan perkembangan anak melalui latihan dan belajar. (Syarifudin, T, 2006: 80).

       B.       Rumusan Masalah.
Rumusan masalah yang diangkat dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
1.        Apa yang dimaksud perkembangan?
2.        Apa yang dimaksud belajar?
3.        Apa pengaruh belajar terhadap perkembangan kognitif anak?

       C.      Tujuan Penulisan Makalah.
       Tujuan yang hendak dicapai dalam kajian ini adalah ingin mengetahui tentang:
1.        Pengertian perkembangan.
2.        Pengertian belajar.
3.        Pengaruh belajar terhadap perkembangan kognitif anak.

       D.      Prosedur Pemecahan Masalah.
       Makalah  ini dibuat dengan menggunakan metode analisis deskriftif, yakni metode yang  mengembangkan suatu permasalahan atau tema penulisan yang bersumber dari buku, internet atau sumber lain yang ada.

        E.       Sistematika Penulisan Makalah.
        Makalah ini diawali dengan bab pendahuluan, dan diakhiri dengan bab simpulan. Secara lengkapnya adalah sebagai berikut:
          Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisikan : a) latar belakang masalah, b) rumusan masalah, c) tujuan penulisan makalah, d) prosedur penulisan makalah, e) sistematika penulisan makalah.
          Bab II merupakan kajian teori dan pembahasan hasil kajian yang berkaitan dengan Pengaruh Belajar terhadap Perkembangan Kognitif Anak : a) pengertian pertumbuhan, b) pengertian perkembangan, c) faktor yang mempengaruhi perkembangan, d) tahap perkembangan, e) proses perkembangan, f) tugas perkembangan, g) belajar, h) arti penting belajar terhadap perkembangan kognitif anak, i)  Belajar, Memori, Pengetahuan dalam Perspektif Psikologi dan Agama.
Bab III, berisikan kesimpulan.

    

BAB II
PENGARUH BELAJAR TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK

A.      Pengertian Pertumbuhan.
              Pertumbuhan adalah perubahan yang bersifat material dan kuantitatif. Misalnya perubahan tingkah laku pembesaran dan perpanjangan tulang dan otot sehingga tubuh menjadi lebih besar dan lebih tinggi. (Syarifudin, T, 2006: 80).
                 Pertumbuhan adalah perubahan kuantitatif yang mengacu pada jumlah, besar, dan luas yang bersifat konkret. Pertumbuhan berarti kenaikan dan penambahan ukuran yang berangsur-angsur seperti badan menjadi besar dan tegap, juga kaki dan tangan semakin panjang. (Syah, M, 1995: 42).

B.       Pengertian Perkembangan.
                Syarifudin,T (2006: 80) mengemukakan bahwa Perkembangan adalah perubahan yang bersifat fungsional dan kualitatif. Misalnya perubahan fungsi pikir dari kemampuan berpikir konkrit menjadi berpikir abstrak, perubahan fungsi tangan dari kemampuan mencoret-coret menjadi mampu menulis.
                Syah,M (1995: 42) mengemukakan bahwa perkembangan adalah rentetan perubahan jasmani dan rohani manusia menuju ke arah yang lebih maju dan sempurna.



         C.      Faktor  yang Mempengaruhi Perkembangan.
                Syah,M (1995: 43) mengemukakan bahwa dalam mempelajari perkembangan manusia diperlukan adanya perhatian khusus mengenai hal-hal: 1) proses pematangan, khususnya pematangan fungsi kognitif; 2) proses belajar; 3) pembawaan atau bakat. Ketiga hal ini berkaitan erat dan saling berpengaruh dalam perkembangan kehidupan manusia tak terkecuali para siswa sebagai peserta didik. Apabila fungsi kognitif, bakat dan proses belajar seorang siswa dalam keadaan positif, hampir dapat dipastikan siswa tersebut akan mengalami proses perkembangan kehidupan secara mulus. Akan tetapi, asumsi yang menjajikan seperti ini sebenarnya belum tentu terwujud, karena banyak faktor yang berpengaruh terhadap proses perkembangan siswa dalam menuju cita-cita bahagianya.
Syah,M (1995: 43) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa terbagi menjadi tiga aliran :
1.    Aliran Nativisme.
Nativisme (nativism) adalh sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman. Aliran filsafat nativisme konon dijuluki sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kacamata hitam. Penganut aliran nativisme berkeyakinan bahwa manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan pandangan seperti ini disebut pesimisme pedagogis.

2.    Aliran Empirisme.
Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empiricism) dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah “The School of British Empiricism” (aliran empirisme Inggris). Namun aliran ini lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah filsafat bernama “environmentalisme” (aliran lingkungan) dan psikologi bernama “environmental psychology” (psikologi lingkungan) yang relatif masih baru. Doktrin empirisme yang sangat mashyur adalah “tabula rasa”, sebuah istilah bahasa asing yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya.

3.      Aliran Konvergensi.
Aliran konvergensi (convergence) merupakan gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perkembangan manusia. Tokeh utama konvergensi bernama Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof dan psikolog Jerman. Para penganut aliran konvergensi berkeyakinan bahwa baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan andilnya sama besar dalam menentukan masa depan seseorang.

                Berdasarkan uraian mengenai aliran-aliran doktrin filosofis yang berhubungan dengan proses perkembangan di atas, faktor yang mempengaruhi perkembangan  pada dasarnya terdiri dari faktorn internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri, sedangkan faktor eksternal yaitu hal-hal yang datang atau ada di luar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungannya.

D.      Tahap Perkembangan.
                 Jean Piaget mendeskripsikan perkembangan mental anak ditinjau dari sudut tindakan (in terms of operations), dari pengaturan objek-objek dan kejadian-kejadian  (the ordering of objects and events). Saat individu belajar untuk memahami objek dan kejadian di dalam suatu lingkungan, pertama ia bertindak berdasarkan pengamatan konkrit, kemudian mampu mempresentasikannya melalui simbol-simbol. Menurut Piaget (Syarifudin, T. 2006: 83) membagi perkembangan mental ini ke dalam 4 periode:
1.   Tingkat Sensiomotorik (0-2 tahun).

Tingkat sensiomotorik (fungsi pancaindra) ini dalam kehidupan anak bertindak lanjut hingga usia 2 tahun anak mempelajari lingkungan sekitar yang paling dekat melalui aktifitas sensiomotorik. Aktifitas terjadi tanpa lewat wujud simbolik tetapi lewat wujud nyata yang ada di lingkungan sekitar. Anak pada masa ini tidak dapat memadukan pengalamannya sebagai satu kesatuan yang utuh, tetapi apa yang dialami merupakan pengalaman-pengalaman yang terpisah. Meski banyak yang bisa diungkapkan dari suatu pengalaman yang diperolehnya, namun dengan kemampuan awal berbicara anak tidak dapat mengungkapkan dan memahami makna pengalamannya secara utuh dan lengkap.

2.   Tingkat Praoperasional (2-6 tahun).
Antara 2-6 tahun anak berupaya mengorganisasikan dunia dirinya dengan lingkungannya. Pada usia 2 atau 2,5 tahun hingga usia 4 atau 5 tahun merupakan periode perkembangan yang cepat dan ekstensif. Umumnya anak usia 3-4 tahun sudah dapat membentuk kelompok bermain (play group) dengan teman-temannya. Antara usia 4-5 tahun anak sudah lebih diarahkan untuk ,emasuki pendidikan TK.

3.   Tingkat Operasional Konkrit (7-11 tahun)
Pada fase ini anak berada pada usia SD. Antara 7-8 tahun, sistem kognitif yang terpadu dalam mengorganisasikan dunia sekitar anak mulai berkembang. Proses berpikir tidak lagi bersifat statis atau sesaat. Bahasa sudah digunakan secara sadar sebagai alat pengembang pikiran. Walau demikian pada tingkat ini anak lebih memfungsikan objek-objek yang dilihatnya, dan anak dapat memanipulasikannya. Pada usia-usia selanjutnya terutama pada kelas tinggi SD, anak mulai mengenal dunia melalui pola pikir yang lebih sistematis, mulai menggunakan proses berpikir logis. Pada kelas 1 SD suasana TK tidak dapat dibedakan dan pengaruh suasana TK pada anak masih tetap ada. Demikian pula pada kelas 1 SLTP suasana dan pengaruh SD pada anak masih ada. Hal ini terjadi karena proses perkembangan berlangsung berkelanjutan.

4.      Tingkat Operasional Formal (12-ke atas)
Pada fase ini antara usia 12-15 tahun, anak mengenal dunia melalui logika dan praduga pikirannya secara sistematis. Anak mampu merumuskan hipotesis tentang duni sekitar, menggunakan proses berpikir logis, dan mampu menggunakan alam pikirannya dibalik sesuatu yang tampak ada. Permasalahan dapat diatasi dengan berbagai cara dan sudut pandang yang berbeda. Bahasa digunakan secara cermat, baik sebagai fasilitator maupun sebagai pengembangan berpikir. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, anak membutuhkan bantuan orang dewasa. Dengan memahami prinsip-prinsip perkembangan dan karakterisktik (ciri, sifat) anak sesuai tingkatan usianya, akan memungkinkan guru lebih mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang kondusif bagi kebutuhan anak.


E.       Proses Perkembangan.
            Proses dapat diartikan sebagai runtutan perubahan yang terjadi dalam perkembangan sesuatu. Adapun maksud kata proses dalam perkembangan siswa ialah tahapan-tahapan perubahan yang dialami seorang siswa, baik yang bersifat jasmaniah maupun yang bersifat rohaniah. (Syah, M, 1995: 48).
            Syah,M (1995: 48) membagi proses perkembangan individu sampai menjadi dirinya sendiri berlangsung dalam tiga tahapan:
1.    Proses konsepsi.
2.    Proses kelahiran.
3.    Proses perkembangan individu bayi menjadi seorang pribadi khas.

            Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini. Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak. Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label burung adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak. Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas. Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya. (http://id.wikipedia.org, Maret, 2011).

F.       Tugas Perkembangan.
            Tugas perkembangan adalah sejumlah tugas yang muncul pada suatu fase perkembangan tertentu dalam kehidupan individu. Keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan akan membawa kebahagiaan, dan kemungkinan akan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Kegagalan akan membawa kekecewaan bagi individu, dan kemungkinan akan mengalami kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas selanjutnya. (Syarifudin, T, 2006: 85).
            Syah, M (1995: 42) mengemukakan bahwa hal yang pasti bahwa setiap fase atau tahapan perkembangan kehidupan manusia senantiasa berlangsung seiring dengan kegiatan belajar. Kegiatan belajar dalam hal ini tidak berarti merupakan kegiatan belajar yang ilmiah. Tugas brelajar yang muncul dalam setiap fase perkembangan merupakan keharusan universal yang idealnya berlaku secara otomatis, seperti kegiatan belajar keterampilan melakukan sesuatu pada fase perkembangan tertentu yang lazim terjadi pada manusia normal. Disamping itu, hal-hal lain yang juga menimbulkan tugas-tugas perkembangan tersebut karena adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu, adanya dorongan cita-cita psikologis manusia yang sedang berkembang itu sendiri, dan adanya tuntutan kultural masyarakat sekitar. Dalam rangka memfungsikan tahap-tahap perubahan yang menyertai perkembangannya, manusia harus belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu pada saat atau masa perkembangan yang tepat dipandang berkaitan langsung dengan tugas-tugas perkembangan berikutnya.

                     G.      Belajar.
           Secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sehubungan dengan pengertian itu perlu diutarakan bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai proses belajar. (Syah, M, 1995: 92).
            Dalam keseluruhan proses belajar di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan paling pokok ini berarti berhasil tidaknya tujuan pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai anak didik. (Surya, 1992: 21).

H.      Pengaruh  Belajar terhadap Perkembangan Kognitif  Anak.
           Syah,M (1995: 94) mengemukakan bahwa belajar adalah key term (istilah kunci yang paling vital dalam setiap usaha prndidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan berbagai upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan. Karena demikian pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi pendidikan pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah, manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah di bumi. Selain itu, dengan kemampuan berubah melalui belajar itu, manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari proses belajar mengajar sebagai proses pendidikan. Apabila fisik dan mental sudah matang, pancaindra sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan, berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba. Kualitas hasil proses perkembangan manusia itu banyak terulang pada apa dan bagaimana ia belajar. selanjutnya tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia itu akan menentukan masa depan peradaban manusia itu sendiri. E.L. Thordike seorang pakar teori Srbond meramalkan, jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengah saja maka peradaban sekarang ini tak akan berguna bagi kehidupan mendatang. bahkan, mungkuin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan sang zaman.


        I.     Belajar, Memori, Pengetahuan dalam Perspektif Psikologi dan Agama.
           Pada umumnya para ahli psikologi pendidikan khususnya mereka yang tergolong cognitivist (ahli sains kognitif sepakat bahwa hubungan antara belajar, memori, dan pengetahuan itu sangat erat dan tak mungkin dipisahkan. Memori yang biasanya kita artikan sebagai ingatan itu sesungguhnya adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storege system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia. Ditinjau dari sudut jenis informasi dan pengetahuan yang disimpan, memori manusia itu terdiri atas dua macam: 1)Semantic memory (memori semantik), yaitu memori khusus yang menyimpan arti-arti atau pengertian-pengertian; 2)Episodic memory (memori episodik), yaitu memori khusus yang menyimpan informasi tentang peristiwa-peristiwa.
Syah,M (1995: 101) mengemukakan bahwa Islam, dalam hal penekanannya terhadap signifikasi fungsi kognitif (akal) dan fungsi sensori (indra-indra) sebagai alat-alat yang penting untuk belajar, sangat jelas. Kata-kata kunci, seperti ya’qilun, yatafakkarun, yubshirun, yasma’un, dan sebagainya yang terdapat dalam Al-Qur’an, merupakan bukti betapa pentingnya penggunaan fungsi ranah cipta dan karsa manusia dalam belajar dan meraih ilmu pengetahuan.
BAB III
KESIMPULAN

1.      Syarifudin,T (2006: 80) mengemukakan bahwa Perkembangan adalah perubahan yang bersifat fungsional dan kualitatif. Misalnya perubahan fungsi pikir dari kemampuan berpikir konkrit menjadi berpikir abstrak, perubahan fungsi tangan dari kemampuan mencoret-coret menjadi mampu menulis.
2.      Secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sehubungan dengan pengertian itu perlu diutarakan bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai proses belajar. (Syah, M, 1995: 92).
3.      Belajar akan mempengaruhi perkembangan kognitif siswa. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah, manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah di bumi. Selain itu, dengan kemampuan berubah melalui belajar itu, manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari proses belajar mengajar sebagai proses pendidikan. Apabila fisik dan mental sudah matang, pancaindra sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan, berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba.
DAFTAR PUSTAKA


Syah, Muhibbin. 1993. Arti Penting Aspek Kognitif dalam Pengajaran Agama. Bandung: Mimbar Studi, IAIN SGD. No. 53/XV/1993.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: P T. Remaja Rosdakarya.

Syarifudin, Tatang, dkk.., 2006. Landasan Pendidikan. UPI PRESS: Bandung.

Rasyidin, Waini, dkk., 2009. Filsafat Pendidikan. UPI PRESS: Bandung.
Syaripudin, T. 2007. Landasan Pendidikan.UPI PRESS: Bandung.
Langgulung, Hasan. 2003. Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Pustaka Al Husna Baru.
Arbi, S.Z, dkk., 1993. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Dirjen Dikti-Depdikbud.

Semoga bisa jadi referensi ya ^_^





2 komentar: